Pemikiran/Akhlak Tasawuf
-
Kitab Al-Risalah al-Qusyayriyah fi ilm al
tashawwuf karya ustadz al-syeikh zayn al-islam bernama abu al-qasim abdi
al-karim bin hawazin al qusyayri al-naysaburi.
-
Kitab al-milal wa al-nihal karya alsyahrastani.
Kisi kisi materi ujian
akhlak tashawwuf :
a.
Mushthalahat al-tashawwuf
1.
Al-maqam dan al-hal :
Menurut al-Qusyairi (w. 465 H) maqam adalah tahapan adab
(etika) seorang hamba dalam rangka wushul (sampai) kepada-Nya dengan
berbagai upaya, diwujudkan dengan suatu tujuan pencarian dan ukuran tugas
Al-ahwaal
atau hal (keadaan) menurut kaum sufi adalah makna , nilai atau rasa yang hadir
dalam hati secara otomatis (dengan sendirinya), tanpa unsur kesengajaan, upaya,
latihan dan pemaksaan
2.
Al-fana wa al-baqa dan al-ghaybah wa al-hudhur
Fana' yang dimaksudkan disini ialah
hilangnya kesadaran akan ujud dirinya (al-fana 'an nafs ) dan wujud
alam sekelilingnya (al-fana’an al-Khaluq) hingga ia (sufi) tidak tahu
bahwa dirinya dalam keadan fana' (al-fana 'an Allah). Kerena
seluruh aktivitas dan kesadarannya terkonsentrasi pada Allah, maka ia larut
dalam kesadaran Allah (al-fana fi Allah) dan akhirnya pada saat itu
yang ada dalam perasaannya hanyalah Allah (al-baqa bi Allah).
Al-Ghaibah: yaitu hilangnya kemampuan
hati untuk mengetahui ahwal atau kondisi diri, dikarenakan terlalu sibuk dengan
urusan-urusan yang bersifat materi (sesuatu yang dapat dicerna oleh panca
indera), sedangkan al-Hudhur: datangnya Kebenaran (Al-Haq/Allah Swt) dalam
hati, karena hati seorang sufi dikondisikan dengan mengingat Allah Swt dan
melalaikan selain-Nya
Hadhur adalah keberadaan “hadir” bersama Al
Haqq karena jika seseorang mengalami ghaibah (gaib) dari
keberadaan semua makhluk, maka dia “hadir” (hadhur) bersama AI-Haqq.
Artinya, keberadaannya seakan-akan “hadir” dikarenakan dominasi ingatan AI-Haqq
(zikir) pada hatinya. Dia hadir dengan hatinya di hadapan Tuhannya.
3.
Al-satru wa al-tajalli, al-muhadharah wa
al-mukasyafah wa al-musyahadah
Kata “tajali” (Ar.: tajalli)
merupakan istilah tasawuf yang berarti ”penampakan diri Tuhan yang bersifat
absolut dalam bentuk alam yang bersifat terbatas. Istilah ini berasal dari kata
tajalla atau yatajalla, yang artinya “menyatakan diri”.
Al-Muhadharah adalah
tahap pertama, yang berarti hadirnya hati untuk selalu mengingat Allah Swt,
al-Mukasyafah adalah tahap kedua yang berarti hadirnya hati untuk mulai membuka
tabir yang menghalangi antara hati dengan Allah Swt, dan al-Musyahadah
merupakan tahap paling tinggi yaitu hadirnya Allah Swt dalam hati, sehingga
terbukalah semua tabir penghalang antara keduanya.
4.
Al-qurbu wa al-bu’du dan al-syari’ah wa
al-haqiqah
Awal tingkatan dalam al-qarbu
(kedekatan) adalah kedekatan dari sikap taat dan menetapi semua waktu yang
diisi dengan ibadah-ibadah wajib. Adapun al-bu’du (jauh) adalah
kekotoran diri sebab penentangan dan menyimpang dari ketaatan
As-syari’ah yaitu
perintah untuk menetapi dan konsisten beribadah, sedangkan al-Haqiqah adalah
terbukanya tabir penghalang antara hati sufi dengan Allah Swt (musyahadah)
5.
Al-syahid, al-nafs, al-ruh dan al-sirr
Makna syahid adalah
al-hadhir, sesuatu yang datang. Setiap apa yang mendatangi hatimu
adalah syahid atau yang menyaksikan atau kesaksianmu.
Nafsu arti bahasanya adalah ada. Nafsu
sesuatu berarti adanya. Menurut kaum Sufi, kata ini dipakai bukan untuk
dimaksudkan untuk menunjukkan sesuatu yang ada, juga tidak gumpalan tema.
Mereka memakainya untuk menunjukkan suatu penyakit dari sifat-sifat hamba atau
akhlak-akhlak dan perbuatan-perbuatannya yang tercela.
Ruh adalah kehidupan.
Sebagian lagi menyebutnya sebagai entitasentitas yang dititipkan dalam wadah-wadah
khusus, bersifat lembut, dan dialiri oleh Allah dengan gerak kehidupan,
sehingga badan manusia menjadi hidup selama ruh itu masih menetap di dalamnya.
Sirri atau rahasia juga merupakan barang
lembut yang dititipkan dalam hati manusia sebagaimana ruh. Dasar-dasarya
merupakan tempat musyahadah, sebagaimana ruh yang merupakan tempat mahabbah
dan hati tempat ma’rifat.
b.
Syarh al-maqamat
1.
Al-tawbah dan al-mujahadah
Taubat adalah kembali
dari kondisi jauh dari Allah swt menuju kedekatan kepada-Nya. Atau : pengakuan
atas dosa, penyesalan, berhenti, dan tekad untuk tidak mengulanginya kembali di
masa datang
Mujahadah
berarti bersungguh hati melaksanakan ibadah dan teguh berkarya amal shaleh,
sesuai dengan apa yang telah diperintahkan Allah SWT yang sekaligus menjadi
amanat serta tujuan diciptakannya manusia
2.
Al-khalwah wa al-uzlah dan al-taqwa
Menyendiri
dari pengaruh duniawi (khalwat) adalah sifat orang-orang suci. Sedangkan
mengasingkan diri (uzlah) adalah lambang orang yang berwushul kepada Nya.
Uzlah
adalah merupakan bagian dari tanda bahwa seseorang telah bersambung dengan
Allah Ta’ala
Takwa merupakan kumpulan perbuatan baik,
sedangkan esensinya selalu ta’at kepada Allah agar terhindar dari siksaanNya
3.
Al-zuhud, al-khawf dan al-raja
Abu Sulaiman
Ad-Darani, arti zuhud adalah meninggalkan aktifitas yang mengakibatkan jauh
dari Allah SWT.
al-khawf merupakan
pengalaman pribadi seorang salik ketika mulai menggapai
tanda-tanda dekat, cinta, dan rindu kepada Allah
rajâ` secara
kebahasaan berarti harap atau berharap
4.
Al-khusyu wa al-tawadhu
Khusyu’ artinya: kelembutan hati,
ketenangan sanubari yang berfungsi menghindari keinginan keji yang berpangkal
dari memperturutkan hawa nafsu hewani, serta kepasrahan di hadapan ilahi yang
dapat melenyapkan keangkuhan, kesombongan dan sikap tinggi hati.
Tawadhu’ secara bahasa bermakna
rendah terhadap sesuatu, secara istilah adalah menampakkan perendahan hati
kepada sesuatu yang diagungkan.
5.
Al-hasad dan al-qana’ah
Hasad/Dengki
adalah sifat yang dimiliki oleh seseorang yang menginginkan
hilangnya kesenangan yang dimiliki oleh orang lain dan berusaha
memindahkanya kepada dirinya.
hilangnya kesenangan yang dimiliki oleh orang lain dan berusaha
memindahkanya kepada dirinya.
Qana`ah menurut bahasa
adalah merasa cukup dengan keputusan Allah SWT., menurut istilah berarti merasa
cukup dengan apa yang dimilikinya, sehingga mampu menjauhkan diri dari sifat
kekurangan.
6.
Al-tawakkal, al-syukur dan al-yaqin
Tawakal ialah
membebaskan hati dari ketergantungan kepada selain Allah SWT, dan menyerahkan
segala keputusan hanya kepada-Nya
Syukur berasal dari kata syukuran yang berarti mengingat akan segala
nikmat-Nya.
Yaqin adalah keyakinan akan
keberadaan Allah swt berdasar ilmu pengetahuan tentang sebab akibat atau
melalui hukum kausalita, seperti keyakinan dari para ahli ilmu kalam.
7.
Al-shabar, al-muraqabah dan al-ridha
Sabar adalah keadaan
jiwa yang kokoh, stabil dan konsekuen dalam pendirian. Jiwanya tidak
tergoyahkan, pendiriannya tidak berubah bagaimanapun berat tantangan yang
dihadapi
Muraqabah artinya merasa selalu
diawasi oleh Allah SWT sehingga dengan kesadaran ini mendorong manusia
senantiasa rajin melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.
Ridha bermakna menerima
semua realita takdir dan ketentuan Allah dengan senang hati, ikhlas, lapang
dada, bahagia, tanpa merasa kecewa atau marah
8.
Al-ubudiyah, al-istiqamah, al-ikhlash, al-shidqu
dan al-haya
Ubudiyah adalah
menegakkan ketaatan secara bersungguh-sungguh dengan pengagungan, memandang apa
yang datang dari dirimu dengan pandangan merendahkan, dan menyaksikan sesuatu
yang dihasilkan dari perjalanan hidupmu sebagai ketetapan Alloh.
Istiqomah adalah berpegang teguh dengan agama dan kokoh (tegar dan
tidak goyah) di atasnya
Ikhlas artinya membersihkan
(bersih, jernih, suci dari campuran dan pencemaran, baik berupa materi ataupun
immateri). Adapun secara istilah[2] yaitu: membersihkan hati supaya menuju kepada Allah
semata, dengan kata lain dalam beribadah hati tidak boleh menuju kepada selain
Allah.
Al
Shidqu Artinya kejujuran, kebenaran, kesungguhan, dan keterbukaan di dalam
menampilkan suatu masalah
Al-haya
/malu adalah akhlak
yang mendorong seseorang untuk meninggalkan semua yang buruk, menghalanginya
dari ketidaksungguhan dalam menunaikan hak kepada yang berhak.
9.
Al-dzikr, al-khuluq, al-jud dan al-sakha
zikir berarti
mengucapkan kalimat tayyibah yaitu kalimat yang indah dan atau ungkapan zikir tertentu.Juga menghadirkan Allah dalam hati
sanubari kita
Akhlaq adalah sifat
yang tertanam dalam jiwa (manusia) yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan
mudah tanpa memerlukan pemikiran maupun pertimbangan
al-jud adalah
kemurahan.
Al-sakha adalah
kedermawanan
10.
Al-ghirah, al-wilayah dan al-adab
Al-Ghirah/Pencemburu terhadap hukum
Allah jika ada yang merusak dan melanggarnya ,sebagai bentuk memperjuangkan
atas agama islam yang suci dan mulia ,mereka tidak akan melakukan suatu
pekerjaan dan tidak akan berteman dengan seseorang kecuali apabila mereka
benar-benar telah mengeahui sesuatu tersebut diridhoi Allah s.w.t. ,meeka tidak
akan mencintai seseorang dan membencinya hanya karena sebab Duniawi.
Esensi adab adalah gabungan dari
semua akhlak yang baik. Jadi orang yang beradab adalah orang yang pada dirinya
tergabung perilaku kebaikan
11.
Al-ma’rifah bi Allah, al-mahabbah dan al-syawq
Marifat
adalah ketetapan hati (dalam mempercayai hadirnya) wujud yang wajib adanya
(Allah) yang menggambarkan segala kesempurnaannya
Mahabbah berarti mencintai Allah
dan mengandung arti patuh kepada-Nya dan membenci sikap yang melawan
kepada-Nya, mengosongkan hati dari segala-galanya kecuali Allah SWT serta
menyerahkan seluruh diri kepada-Nya
Syawq berarti lepasnya jiwa dan
bergeloranya cinta
c.
A’lam al-tashawwuf
1.
Ibrahim bin Adham
Abu Ishak Ibrahim bin Adham, lahir di Balkh dari keluarga bangsawan Arab
di dalam sejarah sufi disebutkan sebagai seorang raja yang meninggalkan
kerajaannya – sama dengan kisah Gautama Buddha – lalu mengembara ke arah Barat
untuk menjalani hidup bersendirian yang sempurna sambil mencari nafkah melalui
kerja kasar yang halal hingga ia meninggal dunia di negeria Persia kira-kira
tahun 165H/782M. Beberapa sumber mengatakan bahawa Ibrahim terbunuh ketika
mengikuti angkatan laut yang menyerang Bizantium. Taubatnya Ibrahim merupakan
sebuat kisah yang unik dalam kehidupan kaum muslimin.
2.
Abu Yazid al-Busthami
Nama
lengkapnya adalah Abu Yazid Thaifur bin ‘Isa bin Surusyan Al-Bustami, lahir di
daerah Bustam (Persia) tahun 874 - 947 M. Nama kecilnya adalah Taifur. Kakeknya
bernama Surusyan, seorang penganut agama Zoroaster. kemudian masuk dan menjadi
pemeluk Islam di Bustam. Keluarga Abu Yazid termasuk berada di daerahnya,
tetapi ia lebih memilih hidup sederhana, Sejak dalam kandungan ibunya, konon
kabarnya Abu Yazid telah mempunyai kelainan. Ibunya berkata bahwa ketika dalam
perutnya, Abu Yazid akan memberontak sehingga ibunya muntah kalau menyantap makanan
yang diragukan kehalalannya."
3.
Al-Junayd bin Muhammad
Abu AI-Qasim Al-Junayd bin Muhammad
Al-Junayd AI-Khazzaz Al-Qawariri, lahir sekitar tahun 210 H di Baghdad, Iraq,
la berasal dari keluarga Nihawand, keluarga pedagang di Persia, yang kemudian
pindah ke Iraq. Ayahnya, Muhammad ibn Al-Junayd. Ia adalah murid dari Sirri
al-Saqati dan Haris al-Muhasibi. Al-Junayd pertama kali memperoleh didikan
agama dari pamannya (saudara ibunya), yang bernama Sari Al-Saqati, seorang
pedagang rempah-rempah yang sehari-harinya berkeliling menjajakan dagangannya
di kota Baghdad. Pamannya ini dikenal juga sebagai seorang sufi yang tawadhu
dan luas ilmunya. Berkat kesungguhan dan kecerdasan Al-Junayd, seluruh
pelajaran agama yang diberikan pamannya mampu diserapnya dengan baik. Dan ia
meninggal tahun 297 H / 298 M dan dianggap sebagai perintis dari tasawuf yang
bercorak ortodoks.
4.
Dzu al-nun al-mishri
Nama
asli beliau adalah Abul Faidh Nun Tsauban bin Ibrahim Al Mishri, wafat pada tahun
245 H/859 M. Ayahnya berasal dari Naubi ( sabuah negara di Timur Laut Afrika,
berbatasan dengan Mesir dan Laut Merah, Padang Libia dan Khortum). Beliau
seorang yang sangat terhormat, paling alim, wara', kharismatik dan seorang
sastrawan pada masanya Nama Dzun-Nun mempunyai makna tersendiri, yaitu arti
dari namanya adalah ”seseorang yang mempunyai huruf Nun dari mesir”. Huruf Nun
ini mempunyai makna tersendiri pula bahwa huruf Nun adalah sebuah simbol yang
mempunyai makna spiritual power. Huruf Nun dimaknai sebagai relasi antara Tuhan
dan hambanya, dimana huruf Nun ini mempunyai sebuah titik ditengah dan garis
yang melingkarinya. Simbol tersebut dimaknai sebagai sebuah roda kehidupan yang
mempunyai titik tujuan sebagai asal, awal dan titik sentral dari kehidupan
Kisi kisi materi ujian ilmu kalam :
A.
Al-fashl al-awwal : Al-Mu’tazilah
Aliran
Mu’tazilah
sebagai salah satu aliran mutakallimin mempunyai peranan besar dalam sejarah
pemikiran Islam. Aliran inilah yang pertama kali mempersenjatai Islam dengan
filsafat dalam usaha mempertahankan Islam dari serangan-serangan luar. Demikian
pula, aliran Mu’tazilah yang meletakkan dasar bagi lahirnya filsafat Islam
dengan tokoh-tokohnya yang datang kemudian seperti; Al-Kindi, al-Farabi, Ibn
Sina dan sebagainya.
Dalam
perkembangannya, aliran Mu’tazilah pernah memperoleh pengaruh dalam masyarakat
Islam. Pengaruh itu mencapai puncaknya di Zaman khalifah-khalifah Bani Abbas,
al-Ma’tasim dan al-Watsiq (813 M. – 847 M.), diakui sebagai mazhab resmi yang
dianut negara, khususnya pada masa al-Ma’mun (827 M). Pengakuan seperti itu,
karena al-Ma’mun adalah seorang murid dari Abu al-Hudzaih al-Allaf, seorang
tokoh Mu’tazilah. Lagi pula al-Ma’mun dan kaum Mu’tazilah mencapai hubungan
yang serasi dalam ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan keagamaan, antara lain
ajaran tentang kemakhlukan al-Quran. Kaum Mu’tazilah oleh penguasa diserahkan
untuk melaksanakan dialog-dialog seputar al-Quran. Karena itu faham Mu’tazilah
terutama ajaran tentang kemakhlukan al-Quran menjadi isu teologis yang
pemasyarakatannya dilaksanakan oleh penguasa.
B.
Al-fashl al-tsani : Al-Jabbariyah
aliran
Jabariyah adalah aliran sekelompok orang yang memahami bahwa segala perbuatan
yang mereka lakukan merupakan sebuah unsur keterpaksaan atas kehendak Tuhan
dikarenakan telah ditentukan oleh qadha’ dan qadar Tuhan. Jabariah adalah
pendapat yang tumbuh dalam masyarakat Islam yang melepaskan diri dari seluruh
tanggungjawab. Maka Manusia itu disamakan dengan makluk lain yang sepi dan
bebas dari tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan kata lain, manusia
itu diibaratkan benda mati yang hanya bergerak dan digerakkan oleh Allah
Pencipta, sesuai dengan apa yang diinginkan-Nya. Dalam soal ini manusia itu
dianggap tidak lain melainkan bulu di udara dibawa angin menurut arah yang
diinginkan-Nya. Maka manusia itu sunyi dan luput dari ikhtiar untuk memilih apa
yang diinginkannya sendiri.
C.
Al-fashl al-tsalits : Al-Shifatiyah (al-Asy’ariyah)
Nama
Al-Asy’ariyah diambil dari nama Abu Al-Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ari yang
dilahirkan dikota Bashrah (Irak) pada tahun 206 H/873 M. Pada awalnya
Al-Asy’ari ini berguru kepada tokoh Mu’tazilah waktu itu, yang bernama Abu Ali
Al-Jubai. Dalam beberapa waktu lamanya ia merenungkan dan mempertimbangkan
antara ajaran-ajaran Mu’tazillah dengan paham ahli-ahli fiqih dan hadist. Pada dasarnya kaum Al-Asy’ariah
adalah aliran sinkretis, yang berusaha mengambil sikap tengah antara dua kutub,
akal dan naql, antara kaum Salaf dengan al-Muktazilah. Atau Al-Asy’ariah
bercorak perpaduan antara pendekatan tekstual dan kontekstual, sehingga
al-Ghazali menyebutnya sebagai aliran al-mutawassith (pertengahan). Adapun
pokok-pokok ajaran al-Asy’ari, yaitu sifat Tuhan, keadilan Tuhan, akal dan
wahyu, konsep iman, melihat Tuhan di hari kiamat, teori Kasb, pelaku dosa
besar, dan al-Quran
D.
Al-fashl al-rabi
: Al-Khawarij wa al-
Khawarij adalah salah satu nama
aliran di dalam pembahasan ilmu kalam. Khawarij merupakan suatu sekte/
kelompok/ aliran yang menjadi pengikut Ali bin Abi Tholib yang keluar dari barisan
Ali dan meninggalkannya karena mereka tidak sepakat dengan keputusan Ali
tentang pelaksanaan Tahkim atau Arbitrase, dalam perang Shiffin pada tahun 37 H atau 648 M,
dengan kelompok Bughoh (pemberontak) Muawwiyah bin Abi Sufyan tentang
persengketaan khilafah. Beberapa sebab mengapa aliran ini dinamakan Khawarij:
1. Golongan ini keluar dari barisan Ali
bin Abi Tholib. Mereka sebenarnya pengikut Ali, kaeana tidak setuju dengan
tahkim atau perjanjian sebagai jalan keluar dala penyelesaian persengketaan
tentang kholifah dengan Muawiyah bin Abi Sofyan.
2. Khawarij berasal dari kata “khoroja”
yang berarti keluar. Mengandung maksud bahwa mereka (sebagian pengikut Ali )
keluar dari barisan Ali.
Munculnya Khawarij yang memisahkan
diri dari kekhalifahan Ali yang sah mencerminkan pergeseran persoalan dari
politik ( kholifah ) menjadi masalah agama. Sebab mereka mengangap Ali telah
berdosa dan telah menyeleweng dari ketentuan agama Islam. Perlawanan khawarij
tidak hanya kepada Ali saja akan tetapi pada Islam yang sah. Baik bani Umayah
maupun bani Abasiyah. Karena mereka dianggap dinasti yang menyeleweng dari
ketentuan agama Islam. Utsman dianggap juga menyeleweng sejak tahun ke-7 dari
masa kekhalifahannya. Sedangkan Ali sejak peristiwa tahkim/perjanjian.
E.
Al-fashl al-khamis : Al-Murjiah
Kata Murji’ah
berasal dari bahasa arab irja’ atau raja’a yang berarti
penundaan, penangguhan atau pengharapan, yakni memberi harapan bagi pelaaku
dosa bersar untuk mendapat ampunan di hari kiamat kelak. Sedangkan mengenai
asal-usul kemunculan murjia’ah, terjadi perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan
bahwa gagasan irja’ dicetuskan oleh para sahabat untuk memelihara persatuan dan
kesatuan umat islam dari konflik pertikaian politik juga untuk menghindari
sekretarianisme. Pendapat yang lain mengatakan bahwa irja’ pertama kali dicetus
oleh cucu Ali bin Abi Thalibi yaitu Al-Hasan bin Muhammad Al-Hanafiyyah sekitar
tahun 659. Pada 20 tahun stelah kematian Mu’awiyah Al-mukhtar membawa paham
Syi;ah ke kufah sedangkan Ibn Zubair mengklaim kehklalifahan di Makka. Merespon
kejadian tersebut muncullah gagasan irja’ atau penangguhan. Sedangkan pendapat
yang terakhir mengatakan bahwa murjiah adalah golongan dari para sahabat yang
menentang gagasan atau keyakinan Khawarij yang mengatakan bahwa melakukan
tahkim itu dosa besar, karena tidak ada yang dapat menghakimi kecuali Allah,
dan pelaku tahkim tadi disebut kafir. Maka dari itu, muncullah kelompok
murji;ah yang mengatakan bahwa orang tersebut tidak kafir, tetap mukmin, akan
tetapi dosanya diserahkan pada Allah.
F.
Al-Fashl al-sadis : Al-Syi’ah
Syi’ah (Bahasa Arab: شيعة, Bahasa
Persia: شیعه) ialah salah satu aliran atau mazhab dalam Islam. Syi'ah menolak
kepemimpinan dari tiga Khalifah Sunni pertama seperti juga Sunni menolak Imam
dari Imam Syi'ah. Bentuk tunggal dari Syi'ah adalah Syi'i (Bahasa Arab: شيعي.)
menunjuk kepada pengikut dari Ahlul Bait dan Imam Ali. Sekitar 90% umat Muslim
sedunia merupakan kaum Sunni, dan 10% menganut aliran Syi'ah.
Syi'ah menurut etimologi bahasa Arab bermakna: pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna: Setiap kaum yang berkumpul di atas suatu perkara.Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abi Thalib sangat utama di antara para sahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucunya sepeninggal beliau. Syi'ah, dalam sejarahnya mengalami beberapa pergeseran. Seiring dengan bergulirnya waktu, Syi'ah mengalami perpecahan sebagaimana Sunni juga mengalami perpecahan mazhab.
Syi'ah menurut etimologi bahasa Arab bermakna: pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna: Setiap kaum yang berkumpul di atas suatu perkara.Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abi Thalib sangat utama di antara para sahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucunya sepeninggal beliau. Syi'ah, dalam sejarahnya mengalami beberapa pergeseran. Seiring dengan bergulirnya waktu, Syi'ah mengalami perpecahan sebagaimana Sunni juga mengalami perpecahan mazhab.
Muslim Syi'ah percaya bahwa Keluarga Muhammad (yaitu para Imam Syi'ah) adalah sumber pengetahuan terbaik tentang Qur'an dan Islam, guru terbaik tentang Islam setelah Nabi Muhammad SAW, dan pembawa serta penjaga tepercaya dari tradisi Sunnah.
Secara khusus, Muslim Syi'ah berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib, yaitu sepupu dan menantu Nabi Muhammad SAW dan kepala keluarga Ahlul Bait, adalah penerus kekhalifahan setelah Nabi Muhammad SAW, yang berbeda dengan khalifah lainnya yang diakui oleh Muslim Sunni. Muslim Syi'ah percaya bahwa Ali dipilih melalui perintah langsung oleh Nabi Muhammad SAW, dan perintah Nabi berarti wahyu dari Allah.